Notification

×

Iklan

Iklan

Makna Filosofis di Balik Sajian Kolak dan Kaitannya dengan Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa

Minggu, 26 April 2020 | 10:22 WIB Last Updated 2020-04-26T03:27:59Z
Makna Filosofis di Balik Sajian Kolak dan Kaitannya dengan Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa
Sudah sejak lama kolak dikaitkan dengan bulan Ramadan. Sajian manis ini selalu ada di daftar takjil atau hidangan buka puasa di Indonesia. Tidak sulit untuk menemukan kolak di pasar-pasar takjil. Mau membuat sendiri pun juga cukup mudah, hanya perlu santan, gula merah, ditambah isiannya yang biasanya disesuaikan selera. Namun umumnya isi kolak terdiri dari pisang, ubi, singkong, kolang-kaling, atau labu kuning. Kandungan gula dalam kolak cukup ampuh untuk mengembalikan energi yang hilang setelah seharian berpuasa. Tak heran kalau kolak jadi sajian favorit banyak orang untuk mengawali berbuka puasa.

Di balik rasa manisnya, ternyata tersimpan makna dan sejarah yang cukup menarik untuk dibahas. Ada juga anggapan kalau kolak ini dijadikan media dakwah oleh para ulama terdahulu. Benar atau tidak wallahu a'lam. Sebelum buru-buru mempercayainya, yuk, kita sama-sama ulik dalam ulasan kali ini!

Kolak tak hanya dianggap sebagai hidangan khas bulan puasa, tapi juga dipercaya sebagai media dakwah ulama-ulama terdahulu di Jawa Dwipa.

Ada anggapan yang beredar di masyarakat tentang asal muasal kolak. Katanya, dulu saat masyarakat Jawa belum mengenal Islam dengan baik, para ulama memilih metode yang relatif mudah dan sederhana, yakni dengan menggunakan medium makanan.

Filosofi kolak diperoleh dari setiap elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari kata kolak sendiri yang merujuk pada “Khalik”, Etss, tapi bukan berarti kolak dimaksudkan untuk menciptakan sesembahan baru. Maksud penggunaan khalik pada nama kolak adalah agar masyarakat ketika memakan makanan tersebut bisa lebih dekat kepada sang Pencipta-Nya yang berarti pencipta yang menunjuk pada Allah SWT.

Isian kolak biasanya menggunakan pisang kepok. Kepok dikaitkan dengan kata “kapok”, dalam Bahasa Jawa berarti jera. Makanan ini bisa jadi pengingat manusia untuk bertobat kepada Allah. Ada juga telo pendem, yang sering ditemukan sebagai isian kolak. Kata “pendem” merujuk pada makna bahwa manusia harus mengubur kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, dan melanjutkan hidup dengan jalan penuh ridho Allah.

Lalu kuah kolak yang biasanya terbuat dari santan, dikaitkan dengan kata “santen” kependekan dari pangapunten, dalam Bahasa Jawa artinya permohonan maaf. Kolak juga jadi pengingat supaya manusia senantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir di atas memang bertujuan mulia, yakni menjadikan kolak sebagai media pembelajaran budi pekerti serta memperkuat keyakinan agama.

Mengenai asal-usul kolak, ada banyak sekali pendapat yang beredar di masyarakat.

Arkeolog senior Puslit Arkenas, Titi Surti Nastiti, menyebut kemungkinan kolak ada hubungannya sama minuman di masa Jawa Kuno yang muncul dalam naskah maupun prasasti, namanya kilang. Kilang adalah minuman dari sari tebu, yang disukai rakyat maupun bangsawan zaman dulu. Nah, menurut Titi, mungkin kolak adalah “kelanjutan” dari kilang itu. Tapi sekali lagi, inipun hanya bersifat teori. Karena istilah kolak nggak secara lugas dijumpai dalam sumber tertulis masa Hindu-Budha. Kemungkinan, ia baru muncul pada masa yang lebih modern yaitu jaman para wali songo.

Mengapa Menjadi Favorit?

Setiap orang pasti punya preferensi untuk menentukan menu berbuka puasa. Tapi biasanya kolak menjadi favorit.

Mengapa demikian?

Karena gula yang terkandung di dalam kolak dikabarkan dapat memberikan energi bagi siapapun yang memakannya.

Sehingga energi orang-orang yang berbuka puasa dapat kembali sempurna dan bisa menjalankan aktivitas ibadah malam lebih semangat lagi.

Jangan lupa baca juga makna dan filosofi ketupat lebaran.

- Berbagai sumber -
×
Berita Terbaru Update