Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS yang Sering Beredar

Mitos HIV/AIDS yang sering beredar memberikan stigma negatif pada penderita. Untuk itu, kenali 12 mitos dan fakta HIV/AIDS di sini.
mitos-dan-fakta-seputar-hiv-aids

Tidak sedikit kesalahpahaman mengenai penyakit HIV/AIDS yang berkembang di masyarakat. Hal ini tidak lepas dari beragam mitos yang beredar mengenai penyakit satu ini.

Selain memberikan stigma negatif kepada penderita, pemahaman keliru soal mitos HIV/AIDS justru menyebabkan penularan makin meluas.

Karena itu, kamu harus bisa membedakan antara mitos dan fakta seputar HIV/AIDS, di antaranya:

1. HIV/AIDS Merupakan Penyakit Kutukan

HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit kutukan di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini tentu saja keliru.

Faktanya, HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human immunodeficiency virus (HIV). Karena virus ini menyerang kekebalan tubuh, maka penderita HIV akan mudah terinfeksi penyakit lainnya.

Apabila infeksi virus semakin berkembang, infeksi HIV berubah menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). AIDS menyebabkan beberapa bagian tubuh penderita mudah terkena infeksi, kehilangan nafsu makan yang parah, dan mengalami penurunan berat badan.

2. Penderita HIV/AIDS Dapat Diketahui dari Tampilan Fisik

Beredar mitos yang menyebutkan bahwa ciri pengidap HIV/AIDS dapat dikenali lewat penampilan fisiknya.

Faktanya, menurut Cleveland Clinic, orang yang positif mengidap HIV/AIDS mungkin tidak mengalami gejala khusus.

Penderita HIV mungkin akan menunjukkan gejala mirip dengan kondisi medis lainnya, seperti demam atau kelelahan. Umumnya, gejala ringan di awal infeksi ini berlangsung selama beberapa minggu.

3. HIV/AIDS dapat Menular Ketika Berdekatan dengan Penderita

Berdekatan dengan penderita bisa bikin kamu tertular penyakit adalah anggapan keliru mengenai HIV/AIDS yang sebaiknya jangan dipercaya. Karena, HIV tidak bisa menular melalui sentuhan, air liur, keringat, ataupun kencing.

HIV hanya bisa menular lewat darah, cairan vagina, sperma, dan ASI. Untuk bisa menular, cairan dari penderita harus menyentuh selaput mukosa dan kulit yang memiliki luka. Penularan bisa juga terjadi lewat penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

Karenanya, bersalaman, berpelukan, menggunakan toilet bersama, berada di ruangan yang sama, ataupun mengobrol dengan penderita HIV tidak akan membuatmu tertular penyakit satu ini.

4. HIV/AIDS Dapat Memengaruhi Persalinan

mitos-dan-fakta-seputar-hiv-aids
Ibu hamil yang menderita HIV/AIDS dapat menularkan virus ke bayinya selama kehamilan atau persalinan. Meski begitu, hal ini bisa dicegah.

Asalkan sang ibu mendapatkan pengobatan yang tepat dan mengikuti anjuran dokter. Wanita hamil dengan HIV dapat meminum obat untuk mengobati infeksi virus dan membantu melindungi bayi dari risiko terinfeksi virus.

5. HIV dapat Menular Melalui Ciuman

Penting untuk diketahui bahwa HIV tidak menular melalui air liur. Karenanya, kamu jangan percaya dengan mitos yang mengatakan bahwa HIV dapat menular melalui ciuman pipi atau bibir.

Meski begitu, penularan tetap bisa terjadi apabila kedua pasangan memiliki luka terbuka di dalam mulut. Kondisi ini memungkinkan area luka terkontaminasi darah penderita sehingga penularan HIV bisa terjadi.

6. Nyamuk Dapat Menularkan HIV

Banyak orang yang mengira bahwa nyamuk dapat menularkan HIV usai mengisap darah penderita. Faktanya, ketika menggigit orang lain, nyamuk atau serangga tidak akan memasukkan darah yang diisap dari pengidap HIV/AIDS.

Terlebih, Human immunodeficiency virus tidak bisa bertahan lama di dalam tubuh hewan.

7. HIV Hanya Dialami Orang dengan Orientasi Seksual Tertentu

Hubungan seksual dengan sesama jenis memang bisa meningkatkan risiko seseorang mengidap HIV. Menurut dr. Devia Irine Putri, hal ini mungkin terjadi karena hubungan seksual yang bebas dan tidak aman.

“Misalnya seks lewat anal. Selain itu, gaya hidup atau komunitasnya juga bisa memengaruhi, seperti menggunakan obat-obatan terlarang,” ujarnya.

Meski begitu, siapa pun bisa tertular HIV, termasuk orang yang berhubungan seks dengan lawan jenis.

Menurut WHO, terdapat beberapa perilaku dan kondisi yang meningkatkan risiko seseorang tertular HIV, di antaranya:
  • Seks anal atau vagina tanpa pengaman
  • Mengidap infeksi menular seksual, seperti sifilis, herpes kelamin, klamidia, gonore, atau vaginosis bakteri
  • Menggunakan jarum suntik, peralatan suntik, serta larutan obat yang terkontaminasi virus
  • Menerima suntikan, transfusi darah, serta transplantasi jaringan yang tidak aman

8. Seks Oral Tidak akan Menularkan HIV/AIDS

Risiko penularan HIV melalui seks oral memang lebih rendah dibanding aktivitas seksual lainnya. Namun, bukan berarti gaya seks ini tidak memiliki risiko sama sekali.

Karena, melakukan seks oral dengan penderita tetap dapat menularkan virus HIV. Sebab, virus ini bisa menular lewat cairan sperma dan vagina.

9. Penderita Punya Angka Harapan Hidup yang Kecil

Banyak masyarakat salah kaprah mengira penderita HIV/AIDS memiliki angka harapan hidup yang kecil. Mitos HIV/AIDS ini tidak sepenuhnya tepat.

Kenyataannya, penderita HIV yang mengonsumsi obat-obatan sesuai saran dokter memiliki rentang hidup yang normal atau mendekati normal. Obat yang dimaksud, yaitu antiretroviral (ARV).

Pemberian antiretroviral (ARV) untuk penderita HIV memang tidak menyembuhkan, tetapi dapat membantu pengidap HIV memperpanjang masa hidupnya.

Apabila kamu menderita HIV, cegah perkembangan infeksi menjadi AIDS dengan rajin mengunjungi dokter dan minum obat secara teratur.

10. Tidak Perlu Menggunakan Kondom Jika Kedua Pasangan Positif HIV

Jika kamu dan pasangan sama-sama mengidap HIV, bukan berarti tidak perlu menggunakan kondom ketika berhubungan seksual.

Menggunakan kondom selama berhubungan intim, dapat membantu melindungi kamu dan pasangan dari risiko terserang penyakit menular seksual ataupun jenis HIV lainnya.

11. Transfusi Darah dan Donor Organ Dapat Meningkatkan Risiko HIV

Biasanya, darah yang tersedia di bank darah rumah sakit dan digunakan untuk transfusi tidak mengandung virus HIV. Virus juga tidak dapat menyebar melalui donor organ dan jaringan, karena biasanya akan dilakukan pengujian terlebih dahulu.

Bila kamu hendak menjalani transfusi darah atau transplantasi organ dan khawatir dengan kondisi darah atau organ yang diterima, sebaiknya konsultasikan langsung kepada dokter.

12. Dengan Meminum Obat Artinya Tidak Akan Menularkan HIV

Pengobatan rutin yang dilakukan pengidap HIV dapat menurunkan jumlah virus dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan virus tidak terdeteksi saat tes darah dilakukan.

Ketika virus tidak terdeteksi dalam darah, artinya penderita tidak dapat menularkan virus. Namun, apabila obat dikonsumsi tidak sesuai dosis atau bahkan berhenti digunakan, jumlah virus dalam darah bisa kembali meningkat sehingga penderita dapat menularkan virus HIV pada orang lain.

Karenanya, pastikan untuk minum obat HIV sesuai dengan anjuran dokter.

Setelah mengetahui mitos dan fakta HIV/AIDS, diharapkan kamu tidak lagi terjebak dengan informasi keliru yang beredar. #JagaSehatmu dengan lakukan diagnosis dini serta pengobatan yang konsisten agar bisa menjalani hidup yang panjang meski mengidap HIV/AIDS.

Referensi:
  • Cleveland Clinic. Diakses 2022. Common Myths About HIV and AIDS.
  • WebMD. Diakses 2022. Common Myths About HIV and AIDS.
  • WebMD. Diakses 2022. Living With HIV and AIDS: Myths and Facts.

Ditinjau oleh dr. Devia Irine Putri