Studi: COVID-19 Dapat Menyebabkan Kerusakan Sperma dan Kemandulan Pada Pria

studi-covid-19-dapat-menyebabkan-kerusakan-sperma
Infeksi COVID-19 dapat mengurangi kesuburan pada pria (Foto: freepik.com/user3802032)

COVID-19 telah menjadi ancaman lain bagi manusia. Kali ini, dapat menyebabkan kerusakan sperma dan kemandulan (infertilitas) pada pria, kata sebuah studi eksperimental.

Efek COVID-19 pada pria

Penemuan terbaru membawa kabar bahwa infeksi COVID-19 dapat merusak kualitas sel sperma yang dapat berujung pada kematian. Selain itu, sebuah studi baru di jurnal Reproduction memberikan hasil bahwa selain kematian sel sperma, juga bisa mengalami peradangan dan stres oksidatif, para peneliti mengumumkan dalam sebuah laporan oleh Channel News Asia.

"Temuan ini memberikan bukti eksperimental langsung pertama bahwa sistem reproduksi pria dapat menjadi sasaran dan dirusak oleh COVID-19," para peneliti melaporkan.

Seperti yang dilansir dari laman TechTimes, (29/01/2021), COVID-19 dapat memengaruhi organ dalam seperti ginjal dan paru-paru melalui transmisi tetesan di sistem pernapasan. Infeksi dapat meluas ke sistem reproduksi pria. Ini dapat merusak perkembangan sel sperma, serta hormon seks, menurut penelitian sebelumnya.

Namun, para ahli mengatakan bahwa mereka masih ragu dengan hasil yang tiba-tiba keluar. Mereka mengingatkan masyarakat untuk meluangkan waktu dalam membuat pernyataan yang masih perlu evaluasi lebih lanjut setelah beberapa kali uji klinis.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa sel sperma cenderung meradang pada pria yang menderita infeksi COVID-19 dibandingkan dengan mereka yang tidak terinfeksi. Melalui anggapan yang dilaporkan ini, para ahli tetap 'berhati-hati.'

Seorang profesor andrologi dari University of Sheffield, Allan Pacey menyatakan dirinya masih perlu lebih berhati-hati dengan data yang keluar belakangan ini. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa para peneliti hanya menyimpulkan bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan kerusakan sperma pada pria. Peneliti South Yorkshire mengatakan bahwa interpretasi data hanya menunjukkan asosiasi.

Pakar lain dari Inggris, Dr. Channa Jayasena mengatakan bahwa jumlah sperma secara bertahap menurun beberapa saat ketika seorang pria jatuh sakit akibat flu. Jayasena menambahkan, yang menyulitkan penelitian adalah penurunan sperma yang diamati yang disebabkan oleh infeksi COVID-19 saja, dan bukan hanya karena sakit biasa.

Sebuah penelitian yang dilakukan antara pria COVID-19 dan non-COVID-19

Sebuah penelitian dilakukan terhadap 105 pria subur tanpa COVID-19 dan 84 pria subur dengan COVID-19 dalam rentang waktu 60 hari dengan interval 10 hari untuk analisis sel spermanya.

Behzad Hajizadeh Maleki, seorang peneliti utama mengungkapkan bahwa penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara kondisi sel sperma dan kualitas serta kapasitas kesuburannya. Maleki mengatakan bahwa penurunan jumlah dan kualitas sperma secara bertahap dapat meningkat, penyakit yang mendasari pasien juga dapat berdampak besar pada penelitian ini.

Juga ditemukan bahwa enzim ACE2 tingkat tinggi terlihat pada pria dengan COVID-19. ACE2 secara ilmiah disebut angiotensin-converting enzyme 2. Ini adalah protein yang bertanggung jawab untuk penyebaran COVID-19, dan memberikan virus akses mudah ke sel lain di dalam tubuh. Menurut The Conversation, enzim ini sering ditemukan pada penderita diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi.

Perhatian lebih lanjut dalam penelitian ini

Pacey mengatakan bahwa setelah 14 penelitian tentang efek COVID-19 pada sel sperma pria, efek virus tersebut hanya bersifat sementara. Ia melanjutkan, beberapa faktor juga bisa berkontribusi pada kerusakan sel sperma dan kemandulan, seperti obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan COVID-19.

Masalah lain yang tercakup adalah obesitas pria dan pengobatan lain yang juga dapat dikaitkan dengan kerusakan sperma dan jumlah sperma yang rendah.