Selasa, 20 November 2018

Sudah Saatnya Menerapkan Disiplin Positif Dalam Pembelajaran

Didiplin Positif
Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. Disiplin merupakan sikap mental, yang pada hakikatnya sebagai pencerminanan rasa ketaatan dan kepatuhan yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan tertentu.

Disiplin bagi peserta didik adalah hal yang rumit dipelajari sebab disiplin merupakan hal yang kompleks dan banyak kaitannya terkait antara pengetahuan, sikap dan perilaku. Kebenaran, kejujuran, tangggung jawab, kebebasan, rasa kasih sayang, tolong menolong dan sebagainya adalah beberapa aturan disiplin kemasyarakatan yang harus dipelajari/diketahui dan ditegakkan oleh para siswa.

Dalam proses pembelajaran baik di rumah maupun di sekolah tentu diperlukan sejumlah upaya untuk menumbuhkan sikap disiplin dan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap anak. Namun proses pendisiplinan tersebut tidak melulu harus dilakukan dengan kekerasan hukuman fisik/mental dan sudah saatnya pada orang tua dan guru menerapkan apa yang disebut dengan disiplin positif, diantaranya adalah :

1. Dialogis dan Partisipatif

Siswa diajak berdialog sebagai subjek dari pendisiplinan, bukan sebagai objek dari hukuman.

2. Respect

Indikator paling sederhana dari respect adalah mau mendengarkan penjelasan dari siswa yang tengah didisiplinkan tanpa tendensi negatif dan labeling (baik secara lisan ataupun ekspresi)

3. Fokus pada Strength

Lihat potensi siswa, untuk overcome masalahnya, bukan pada kelemahannya. Psikologi positif.

4. Kesetaraan dan Inklusif

Fair dan tidak membeda-bedakan siswa berdasarkan tingkat dan frekuensi pelanggarannya.

5. Empati dan Komunikasi

Dengan ketulusan, terbuka dan CLEAR

6. Mistakes = Learning Opportunities

Kita memandang bahwa kesalahan anak adalah peluang untuk dirinya dan kita belajar lebih baik, lebih bijak, lebih disiplin. Bukan memandang pelanggaran sebagai atribut kepribadian seseorang.

7. Konsekuensi Logis dan Reasonable

Konsekuensi diarahkan untuk menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah dan keluar dari konteks esensi masalahnya. Konsekuensi harus masuk akal siswa yang menjalankannya.

8. Holistic

Latar belakang, faktor pemicu, dan keseluruhan proses ketidakdisiplinan dipandang secara menyeluruh, sistematik, dan bisa dipahami dari berbagai sudut pandang.

9. No Over Generalization


Pelanggaran yang sama tidak dianggap sama untuk setiap individu berdasarkan background dan faktor penyebabnya. Sehingga pendekatan memahami dan solusi masalah bisa bersifat individual atau diferentiatif.

Jika ada tambahan tentang disiplin positif silahkan bisa Anda tambahkan dikolom komentar dibawah ini.
[favorite]
Hai : Untuk mendapatkan konten terbaru dan pemberitahuan postingan baru, silahkan subscribe email Anda.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search