Makna Yang Terkandung Dalam Tradisi Memitu di Indramayu

makna-yang-terkandung-dalam-tradisi-memitu

Memitu atau memiton adalah sebuah upacara tradisi masayarakat Indramayu atau masyarakat Jawa pada umumnya yang dilaksanakan oleh sepasang suami istri yang sedang menantikan anak pertama. Seperti istilahnya yaitu memitu yang berasal dari kata 'mitu' yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh, upacara ini dilaksanakan tepat ketika usia kehamilan sang istri yang bersangkutan menginjak usia tujuh bulan, dan biasanya dilaksanakan antara tanggal 7, 17, dan 27 dalam hitungan kalender Jawa disesuaikan dengan kesiapan yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan Upacara Memitu

Maksud dan tujuan dilaksanakannya upacara ini yaitu bersyukur kepada Allah SWT, karena rumah tangganya dibarokahi dengan diberi keturunan. Selain itu adalah memohon agar diberi keselamatan baik bagi si ibu maupun jabang bayi pada saat melahirkan nanti. Disamping juga memohon agar si jabang bayi lahir dengan tanpa cacat dan menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan membawa pengaruh sejahtera kelak hidup di dunia.

Prosesi upacara memitu yang biasanya dilaksanakan di halaman rumah dan dipimpin oleh seorang lebe atau sesepuh kampung ini dibuka dengan membaca salah satu surah dalam Al-Qur'an yakni surah Lukman atau surah Yusuf dengan harapan anak yang dilahirkan nanti memiliki budi pekerti seperti Lukman ataupun memiliki ketampanan seperti halnya nabi Yusuf dan menutupnya dengan doa Al-Barokah. Setelah pembacaan salah satu surah dalam Al-Quran selesai barulah kemudian dilaksanakan acara inti yakni upacara mandi yang dilakukan sepasang suami istri yang sedang mengandung tersebut. Upacara mandi ini dipimpin oleh dukun beranak atau paraji.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara:

Persiapan pokok untuk melaksanakan upacara Memitu/Memiton/Tingkeban adalah mempersiapkan :
  • Jarit atau tapih (kain panjang) 7 lembar dan masing-masing lembarnya memiliki warna yang berbeda.
  • Pendil atau belanga (semacam tembikar yang pada jaman dulu dipakai untuk mengambil air) yang berisi air, berbagai jenis tanaman dan beberapa uang logam
  • Kembang tujuh rupa
  • Sesaji yang berisi antara lain : Nasi wuduk, Juwadah pasar, Rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih, Aneka buah dan umbi, dan tebu wulung.
  • Kelapa muda yang telah digambar salah satu tokoh wayang (biasanya tokoh Arjuna atau Srikandi)

rujak-memitu
Rujak parud - memitu
kelapa-muda-memitu
Kelapa muda lukis wayang - memitu

Prosesi Tradisi Memitu

Prosesi upacara mandi sendiri diawali dengan dibacakannya kidung oleh sesepuh desa dihadapan air yang akan dipakai untuk upacara mandi, kemudian setelah pembacaan kidung selesai barulah kemudian dibagikannya sesajen kepada para tamu undangan. Dan disaat para undangan telah menerima sesaji itulah sambil berjalan pulang mereka terlebih dahulu menghampiri si ibu dan suami yang sedang diupacarai ini untuk menyiramkan air yang telah diberi kidung dan kembang 7 rupa. Sambil dimandikan itulah secara berkala si ibu hamil itu berganti kain panjang yang telah di siapkan tadi hingga 7 kain tersebut habis terpakai.

mandi-acara-memitu

mandi-acara-memitu

Dan pada saat pergantian kain yang ke tujuh itu, kemudian paraji menjatuhkan kelapa muda yang telah digambari tokoh wayang tadi melalui dalam kain yang dipakai oleh si ibu hamil dan suami si ibu hamil yang sedari tadi ikut dimandikan diharuskan untuk menangkap kelapa muda itu sebelum jatuh ke tanah. Makna filosofis dari dijatuhkannya kelapa muda itu sendiri melambangkan kemudahan si ibu hamil saat melahirkan nanti, sedangkan gambar wayang yang terukir di kelapa sendiri sebagai simbol pengharapan bahwa sang jabang yang kelak akan dilahirkan memiliki paras dan kegagahan seperti yang dimiliki oleh si tokoh wayang yang di gambar tersebut.

Sebagai penutup prosesi upacara mandi ini kemudian si suami dari ibu hamil itu sambil mengambil pendil yang berisi tanaman dan uang logam berlari berlari menuju jalan perempatan, dan kemudian memecahkan pendil itu di sana sebagai simbol pecahnya ketuban pada saat melahirkan nanti.