Munculnya Fenomena Second Account pada Media Sosial untuk Aksi Bullying atau Cyberbullying

munculnya-fenomena-second-account-pada-media-sosial
Menggunakan media sosial. (Foto: freepik.com/chajamp)

Media Sosial, secara mudahnya, dapat didefinisikan sebagai sebuah tempat atau media untuk bersosialisasi ataupun berbagi sesuatu konten. Dewasa ini, kita dapat melihat popularitas dari media sosial sudah meledak ke segala kalangan masyarakat Indonesia. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas sudah mengenal dan menggunakan media sosial. 

Dalam penggunaan media sosial, kita dapat melihat terjadinya pergeseran fungsi, yang dari hanya sekedar untuk bersosialisasi ataupun berbagi suatu konten menjadi sebagai tempat atau ajang untuk eksis ataupun pamer bahkan media sosial juga digunakan untuk aksi bullying. Dampaknya, kita dapat melihat munculnya suatu fenomena kecil yang bisa dikatakan tidak begitu penting, tetapi cukup menarik untuk dibahas, yaitu munculnya fenomena dimana para pengguna media social membuat akun media sosial lain dan menamakannya akun alter, akun sekunder, akun kedua, akun anonim, atau apapun namanya. Itulah fenomena yang terjadi pada remaja Indonesia beberapa bulan belakangan di Facebook maupun Instagram. 

Seperti yang dilansir dari Fimela (05/11/2020), Volunteer Komunitas Anti-Bullying Sudah Dong, Fabelyn Baby Walean memberi saran bagi para orangtua bagaimana cara untuk menangani anak yang sudah terlanjur melakukan aksi bully lewat akun kedua. Bisa menjadi akun anonim atau nama lain yang tujuannya sama-sama untuk perundungan. 

"Kami selalu bilang pada mereka, itu sesuatu yang salah. Kalian mau bully seseorang tapi enggak mau nunjukin diri dan cuma berani di belakang layar, itu namanya coward, enggak berani nunjukin diri kita yang sebenarnya," ujar Fabelyn saat ngobrol di kampanye Real Talk Instagram belum lama ini. 

Memang dengan segala kemudahan yang dibuat di era teknologi (era digital) sekarang ini, tidak hanya dilakukan oleh remaja bahkan membuat banyak orang terkadang menyalahgunakannya. Khususnya untuk remaja, tentu pengawasan orangtua menjadi faktor vital untuk mencegah anak menjadi pelaku bullying. 

"Anak yang belum cukup usia seperti yang masih SD juga sekarang bisa dengan mudah main medsos tanpa pengawasan orangtua. Ortu harus melek dengan teknologi dan harus punya guidence untuk anak apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di medsos," lanjutnya. 

Membuat anak nyaman bercerita 

Fabelyn juga menambahkan pentingnya membuat anak merasa nyaman untuk anak mulai bercerita tentang kegelisahan dan masalahnya setiap hari. Dan orangtua harus punya banyak akal untuk membuat anak nyaman membicarakan apa saja pada mereka, termasuk urusan punya dua akun atau isu bully. 

"Biasanya karena sibuk dengan pekerjaan jadinya sulit untuk anak curhat ke orangtua, yang ada malah udah ketakutan duluan. Padahal kalau mau mengorek cerita apapun dari anak kuncinya adalah bikin nyaman, mau denger, dan bisa ngomong dengan baik lalu enggak nge-judge," tutupnya. 

Memang sebagai orang tua saat ini kita merasa sulit mendidik anak, tapi coba deh ganti kata “mendidik” dengan “bekerja sama” dan ternyata jadi lebih mudah kita dalam mengarahkan anak, jadi sempatkan waktu dengan ngobrol dengan anak hingga anak tidak canggung lagi curhat dengan orang tua. 

Muncul sebuah pertanyaan atas kemunculan fenomena second account ini. 

munculnya-fenomena-second-account-pada-media-sosial
Aksi bullying atau cyberbullying oleh remaja menggunakan media sosial. (Foto: freepik.com/mrzivica)

Kenapa second account dibuat? Dengan dibuatnya second account, artinya terdapat perbedaan isi konten antara first account dan second account. Apabila kita melihat lagi tujuan dari media sosial, yang kini sudah mulai bergeser untuk menunjukkan eksistensi diri, dengan adanya second account, artinya satu orang yang memiliki dua akun, bisa dikatakan memiliki “diri yang lain” dari dirinya sendiri tersebut atau bisa disebut sebagai alter ego. 

Alter ego adalah kondisi dimana seseorang membentuk karakter lain dalam dirinya sendiri secara sadar. Karakter lain ini, biasanya adalah sebuah karakter ideal dari dirinya sendiri atau bisa juga, alter ego ini digunakan sebagai sarana untuk menyembunyikan sisi diri mereka yang ingin mereka sembunyikan dari orang lain. Untuk lebih mudahnya, kita bisa menggunakan perumpamaan superhero di film. Peter Parker dan Spiderman adalah orang yang sama, tetapi di mata publik, Spiderman dan Peter Parker adalah orang yang berbeda. Dalam diri Peter Parker sendiri, dia melakukan hal yang berbeda ketika menjadi Peter Parker dan ketika menjadi Spiderman. Bisa dibilang, itulah alter ego.

sumber lain: 
https://aeramu.medium.com/munculnya-fenomena-second-account-pada-media-sosial-sebagai-tanda-berkembangnya-alter-ego-di-9f135acf5b6a