Kesenian Sandiwara Indramayu sebagai sarana hiburan dan fungsi edukasi

kesenian-sandiwara
Salah satu kesenian Indramayu yang sampai saat ini masih bertahan sebagai salah satu jenis kesenian rakyat, yaitu Kesenian Sandiwara. Kesenian ini mirip sekali dengan kesenian ketoprak dari Jawa Tengah. Kesenian Sandiwara ini memiliki kekuatan pada masyarakat pendukungnya, di mana antusiasme masyarakat Indramayu dengan penuh antusiasme ditunjukkan terhadap sandiwara di daerah tersebut. Hal ini memunculkan banyak ide dan gagasan pada seniman Sandiwara Indramayu untuk bersaing mengemas pertunjukannya. Dengan berbagai perbaikan dan modifikasi cerita, pagelaran Sandiwara Indramayu ini selain sebagai sarana hiburan juga oleh masyarakatnya sebagai sarana pendidikan atau pesan moral yang disampaikan melalui jalannya cerita.

Kesenian Sandiwara Indramayu ini pakem utama dalam ceritanya yaitu menampilkan lakon-lakon Babad, baik Babad Cirebon-Dermayon maupun Babad Tanah Jawa. Demikian pula seni pertunjukan sandiwara memiliki fungsi sebagai media penerangan masyarakat yang turut menyampaikan pesan-pesan pemerintah dan norma-norma adat kemasyarakatan setempat.

Berbicara tentang kesenian Sandiwara Dermayu memang tidak lepas dari nama besar Domo Suraji, Salmin (Grup Sandiwara Indraputra) dikarenakan beliau adalah memang seniman yang menciptakannya untuk pertama kali. Sandiwara ini merupakan ide jenius yang memunculkan ide baru, kreatif, dan segar, dengan perombakan berupa penyampaian dalam bahasa Jawa Dermayon yang khas.

Kesenian ini dipentaskan diatas panggung yang umumnya berukuran 8 x 10 meter, dengan tinggi sekitar 1 meter. Atapnya dibuat dari besi, atau bambu, dengan terpal pelindung. Di bagian belakang dipasang 8 sampai 10 kelir (layar) yang digantung di atas panggung. Masing-masing kelir ini menggambarkan aneka suasana, seperti keraton, hutan belantara, pancaniti (petamanan) atau pemandangan desa, pemandangan segara dan sebagainya mengikuti cerita yang sedang dimainkan.

Disela-sela cerita dalam kesenian sandiwara ini, penonton akan dapat menikmati banyak versi musik dangdut Cerbon-Dermayon sebagai selingan.

Pementasan kesenian sandiwara ini biasanya memenuhi panggilan pesta hajatan, seperti hajatan sunatan dan hajatan kawinan atau hajatan syukuran lainnya.

Tidak seperti kesenian Tarling Indramayu yang mulai tergerus oleh kesenian organ tunggal, hegemoni sandiwara Indramayu terus berlanjut sampai sekarang, ketika kesenian serupa di wilayah Cirebon, redup dan tidak ada regenerasi. Sandiwara Indramayu, jajah budaya hingga ke wilayah sekitarnya seperti Grup Sandiwara Darma Saputra,Grup Sandiwara Aneka Tunggal, Grup Sandiwara Dwi Warna, Grup Sandiwara Lingga Buana dan masih banyak lagi grup-grup lain yang masih eksis sampai sekarang, bahkan banyak grup baru kesenian sandiwara indramayu, seperti Grup sandiwara Galu Ajeng dari Lohbener, Grup Sandiwara Budaya Pantura Si Prungu Kembar dari Kroya Indramayu.

Kesenian tradisional seperti sandiwara ini merupakan bagian dari identitas dan ciri khas daerah Indramayu, yang seyogyanya patut kita lestarikan baik untuk sarana hiburan masyarakat maupun fungsi edukasi.