Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah lahirkan bibit-bibit baru pelestari tari topeng Indramayu

topeng-kelana-indramayu
Sekilas tentang seni tari topeng, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu. Tari topeng adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng Kelana Kencana Wungu yang merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-tergila kepadanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Menak Jingga (disebut juga Kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, temperamental dan tidak sabaran.

Mendengar kata tari topeng tentu kita akan teringat sang maestro tari topeng asal Indramayu. Siapa yang tak mengenal Mimi Rasinah, legenda tari topeng Indramayu yang namanya tersohor hingga mancanegara. Berbagai penghargaan telah dia terima, termasuk bintang budaya parama dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sejak umur lima tahun, Rasinah sudah menggeluti tari topeng. Mentor dia tak lain adalah Lastra, sang ayah yang berprofesi sebagai dalang, dan ibunya yang menekuni seni dalang ronggeng.

Memasuki usia tujuh tahun, Rasinah ikut orangtua bebarangan atau mengamen tari topeng dari satu tempat ke tempat lain. Lastra mengembuskan napas terakhir, ketika dihujam timah panas saat agresi kedua Belanda.

Usai dirundung kesedihan lantaran meninggalnya sang ayah, Rasinah melanjutkan tradisi bebarangan dengan ketua rombongan sang suami, Mama Amat. Namun tak lama kemudian, Orde Baru melarang Mimi Rasinah manggung. Keseniannya dinilai dapat membangkitkan syahwat dan abangan.

Hari-hari berikutnya sepi tanggapan, dan membuat Mama Amat menjual seluruh topeng dan aksesoris tari untuk modal mendirikan grup sandiwara. Mimi Rasinah pun memilih pensiun dari dunia kesenian, meski tak total berhenti.

Kebangkitan tari topeng terjadi ketika tahun 1994, Rasinah menujukkan kemampuannya di hadapan sejumlah dosen STSI Bandung. Semangatnya yang telah lama terkubur, kembali hidup. Secara berlahan dan pasti, Rasinah mulai manggung hingga ke luar negeri.

Kelumpuhan akibat stroke yang dideritanya tahun 2006, mengantarkan Rasinah pada peristirahatan terakhir pada 7 Agustus 2010.

Kesenian tari topeng Indramayu tak berhenti. Cucu Rasinah, Aerli Rasinah merupakan satu-satunya pewaris perjuangan Rasinah untuk selalu menjaga dan melestarikan kesenian tari topeng.

sanggar-tari-topeng-mimi-rasinah
Kesenian tari topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu sanggar tari topeng yang ada di Indramayu yang melahirkan bibit-bibit pelestari tari topeng yaitu sanggar tari topeng Mimi Rasinah, yang terletak di Desa pekandangan, Indramayu.