Jawa Barat terkenal akan pariwisata dan budayanya. Macam-macam budaya di Jawa Barat yang sampai saat ini masih terus dilestarikan, salah satunya adalah upacara adat di Jawa Barat. Upacara adat Jawa Barat merupakan warisan leluhur kita yang harus terus dilestarikan.

1. Upacara Adat Jawa Barat yang bersifat religius
2. Upacara Adat Jawa Barat menyangkut pertanian, dan
3. Upacara Adat Jawa Barat soal kehidupan manusia

Menyambung budaya Jawa Barat sebelumnya, yaitu upacara adat tentang religi, upacara adat tentang pertanian, dan kini upacara adat Jawa Barat soal kehidupan manusia (sosial).

Upacara adat Jawa Barat soal kehidupan manusia

1. Sepitan atau Khitanan 
khitanan
Acara khitanan (courtesy: baraya-pasundan.blogspot.com)
Upacara khitanan dilakukan pada anak laki-laki berdasarkan kepercayaan Islam, yang bertujuan agar alat vital pengantin sunat higienis dari najis dan kotoran. Sedangkan upacara sepitan dilakukan pada anak perempuan saat masih bayi. Khitanan biasanya dilakukan saat anak berusia 6 tahun, dan mengundang paraji (dukun) sunat serta kerabat.

2. Tingkeban / Tujuh Bulan
tingkeban
Upacara adat tingkeban (courtesy: baraya-pasundan.blogspot.com)
Upacara adat Jawa Barat yang berhubungan dengan kehidupan manusia lainnya ialah tingkeban. Upacara adat ini diadakan saat seorang ibu yang sedang mengandung tujuh bulan. Tingkeban berasal dari kata tingkeb yang artinya tertutup. Maksudnya, si ibu tidak boleh bercampur dengan suaminya selama 40 hari setelah persalinan dan sebagai tanda supaya si ibu mengurangi porsi kerjanya, sebab sedang mengandung besar.

Pengajian, peralatan buat memandikan ibu hamil, dan rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah disiapkan buat upacara ini. Pada pelaksanannya, si ibu hamil dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat dengan air bunga 7 rupa. Lalu, pada guyuran terakhir dimasukan seekor belut sampai mengenai perut ibu hamil ini. Upacara ini bertujuan untuk memohon si bayi dalam kandungan dan si ibu yang hendak melahirkan.

3. Upacara pernikahan 
pernikahan-cirebon
Upacara Adat Pernikahan Jawa Barat (courtesy: rumahpengantin01.wordpress.com)
Ada berbagai macam upacara dalam prosesi adat pernikahan, yaitu upacara yang diadakan sebelum akad nikah dan yang diadakan sesudah akad nikah. Upacara yang dilakukan sebelum akad nikah ialah neundeun omong, ngalamar, seserahan, dan ngeuyeuk seureuh. Lalu, upacara yang diadakan setelah akad nikah ialah mumunjungan, sawer, nincak endog, buka pintu, dan huap lingkung.

Neundeun omong ialah kunjungan orangtua pria kepada orangtua perempuan buat bersilaturahmi dan memberi pesan kalau si perempuan akan dilamar oleh si pria. Ngalamar adalah kunjungan orangtua pria buat meminang perempuan, dan membahas planning pernikahan mereka. Seserahan ialah proses menyerahkan si pria calon pengantin kepada calon mertuanya buat dinikahkan kepada si perempuan.

Kemudian, Ngeuyeuk seureuh dilakukan buat mengatur dan mengerjakan sirih serta mengait-ngaitkannya. Akad nikah ialah proses perjanjian antara pria dan perempuan, yang syaratnya ada wali nikah, ijab kabul, saksi, dan mas kawin. Mumunjungan ialah proses sungkem kepada orangtua mempelai pria dan perempuan untuk memohon doa restu.

Sawer dilaksanakan oleh kedua mempelai yang duduk di halaman rumah dan dipimpin juru sawer, kemudian menaburkan isi bokor kepada kedua pengantin dan para undangan. Isi bokor itu berupa beras kuning, uang receh, bunga, dua buah lipatan sirih, dan permen.

Nincak endog dilakukan setelah proses nyawer. Praktiknya, kedua mempelai mendekati tangga rumah, lilin dinyalakan, mempelai perempuan membakar ujung harupat selanjutnya dibuang. Mempelai pria menginjak telur, lalu kakinya ditaruh di atas batu pipisan kemudian dibasuh air kendi oleh mempelai perempuan, lalu kendinya kemudian dijatuhkan ke tanah sampai pecah.

Pada upacara buka pintu, perempuan masuk ke rumah, dan mempelai pria menunggu di luar. Hal ini memperlihatkan kalau perempuan belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucap sahadat. Setelah sahadat dibacakan, pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk.

Huap lingkung dilakukan dengan saling menyuapi antara kedua mempelai. Bakakak ayam dipegang kedua mempelai, kemudian saling tarik menarik sampai menjadi dua. Yang mendapat bagian terbesar dipercaya akan mendapat rezeki yang lebih besar. Lalu, keduanya saling menyuapi nasi kuning dan bakakak ayam.

Masih banyak lagi upacara adat Jawa Barat yang dilakukan di berbagai daerah di tatar Sunda. Baik itu menyangkut pertanian, kehidupan manusia, dan religius/keagamaan. Dari berbagai upacara adat tadi, intinya kita harus senantiasa mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan kita berlimpah rezeki. Sudah menjadi kewajiban kita pula buat melestarikan kekayaan tradisi ini.
Pengen Langganan Berita?

Mangga batur lan sedulur sing pengen langganan berita, ketik Nami lan Email sampean teng andap niki