Asal-usul-tarling
Pada Asal-usul tarling (Bagian 1) telah diceritakan bahwa Sekitar tahun 1940an Jayana (tokoh dalang Tarling asal Semaya Krangkeng) dan Dadang Darniah (sinden Tarling asal Bogor Sukra Indramayu) di saat mudanya sering berkumpul di rumah Pak Sugra untuk belajar dan berlatih tembang dan musik tengdung.

Kepiawaian Jayana dalam mementaskan “Melodi Kota Ayu” semakin banyak diminati oleh kalangan bangsawan dan ningrat kraton Cirebon. Tensi pementasannya pun kemudian lebih banyak di Cirebon ketimbang di Indramayu. Sampai kemudian ia menikah dengan keluarga kraton Cirebon. Saat itulah Jayana diminta mengganti nama untuk pentas keseniannya menjadi “Melodi Kota Udang”. 

Sementara itu muncul tokoh muda di Cirebon yang mulai mengikuti langkah-langkah berkesenian ala Jayana, yaitu Sunarto Marta Atmaja. Yang di pertengahan tahun 60 hingga 70-an digemari oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. Saat itu dijaman kejayaan Sunarto ia menyebut dan mempropagandakan kesenian yang telah dimunculkan Jayana itu dengan Nama “Tarling”. Sebutan dari Gitar dan Suling sebagai alat musik yang mendominasi kesenian tersebut. 

Sunarto Marta Atmaja, berhasil mengangkat nama kesenian Tarling manakala ia pentas bareng dengan pesinden terkenal asal Indramayu Mimi Dadang Darniah di tahun 1971 melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Cirebon, sebagai satu-satunya Corong komunikasi dan alat hiburan masarakat saat itu di Wilayah 3 Cirebon yang meliputi; Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan dan Indramayu. Sunarto dan Dadang Darniah berhasil memukau pendengar dan pecinta tarling saat itu dengan mengisahkan lakon “Gandrung Kapilayu” atau yang kemudian dikenal dengan julukan “Kang Ato Ayame ilang” sebagai bagian dari dialog percintaan mereka di acara Live RRI tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya setelah ramainya sebuatan kesenian Tarling oleh Sunarto dan Peseinden Dadang Darniah, di Indramayu bermunculan group-group baru setelah keberhasilan Jayana berkesenian di Kota Cirebon. Pesinden Dadang Darniah membentuk Tarling Endang Darma, Pesinden Hj. Dariah membuat grup dengan nama Tarling “Cahaya Muda”, kemudian di Cirebon muncul Abdul Adjib membentuk Tarling “Putra Sangkala” sedang Sunarto Marta Atmaja berjaya dengan group Tarling-nya  yaitu “Nada Budaya”.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, kemuadian grup-grup tarling baru di Indramayu pun bermunculan yang menjadi puncak popularitas kesenian Tarling, seperti Grup Tarling Bhayangkara Putra Sangkala, Grup Tarling Bhayangkara Muda, Grup Tarling Dharma Muda.

Sebenarnya tidak ada perbedaan tarling Cirebon dan tarling Indramayu, Mereka para tokoh tarling di Cirebon mengakui keberadaan seniman-seniman Indramayu yang mempelopori kesenian ini. Meskipun Kang Sunarto (Kang Ato) yang mempropagandakan pertama kali dengan nama Tarling. Ia tetap mengakui asal muasal kesenian Tarling berasal dari Indramayu.

Kemudian muncul istilah tarling Indramayu Klasik dan tarling Indrmayu Modern, itu sebenarnya hanya istilah. Karena modernisasi itu merupakan perkembangan jaman. Tarling kalau dilihat dari alatnya memang sudah modern. Kalau lagu dan irama musiknya memang klasik. Karena sudah ada sejak jaman hindu dan disaat jaman penjajahan Belanda. Hanya saja kini memperoleh sebutan Tarling Klasik. Kalau mau jujur sebenarnya yang klasik itu Tarling “Teng Dung”. Sebuah tembang dengan irama yang dihasilkan dari gitar dan suling saja dengan laras tembang klasik dermayonan, seperti Kiser Saedah, Kiser Kedongdong, Cirebon Pegot, Dermayon Pegot, Kasmaran, Bayeman, dan Bendrong. Adapun lagu-lagu itu asalnya diambil dari lagu-lagu “pujanggaan” berupa pupuh dandang gula, sinom, kinanti, pangkur, mijil dll yang diperbaharui dengan laras pelan diiringi suara gitar dan suling.

Adapun yang disebut Tarling Modern saat ini yaitu grup kesenian tarling yang memiliki 2 group dalam satu rombongan. Yaitu group seniman tradisi pendukung drama dan musik tarling dan juga group musik berirama dangdut. Adapun cara bermainnya dengan petikan gitar gaya tarling yang kadang menyanyikan lagu dangdut asli berbahasa Indonesia, kadang berbahasa Indramayu-Cirebon. 

Sementara pada saat ini malah muncul modernitas yang lain. Ada group kesenian tarling yang menggunakan alat musik trio organ. Yaitu Gitar, Suling dan Organ serta didukung kemlong dan Kendang Blangpak. Ada juga yang dengan organ saja bisa membawakan lagu klasik tarling, dangdut dan lagu-lagu pop mengikuti selera pasar. Namun di malam harinya ada drama humornya sebagai selingan sebelum pertunjukan itu berakhir. Kesenian semacam ini disebut Organ Tarling.

Sebutan Tarling dangdut sendiri bermula manakala group-group tarling di Cirebon seperti “Putra Sangkala” (pimpinan H. Abdul Adjib), Nada Budaya (Pimpinan Sunarto Marta Atmaja), dan Jayalelana (pimpinan Maman Suparman) dan di Indramayu terjadi pada Tarling Cahaya Muda (pimpinan H. Dariah), Endang Dharma (pimpinan Hj Dadang Darniah), Dunyawati (pimpinan Pesinden Hj. Dunyawati), dirasa lesu tak memperoleh panggungan tanggapan, maka muncul nama-nama baru seperti Nano romansah dan H. Udin Zaen asal Indramayu yang menggabungkan kejayaan musik dangdut dalam pentas tarling. Sehingga ada dua pementasan dalam satu panggung yaitu tarling klasik dimunculkan setelah Acara dangdutan gaya Oma Irama di pentas siang dan malam.

Yoyo. S
Yoyo Suwaryo
(Penyanyi dan Musisi Tarling Terkenal asal Indramayu
Karena jasa Nano Romansyah dan Udin Zaen inilah kemudian grup-grup tarling lainnya mengajak pentas group dangdut anak-anak muda dalam satu panggung. Cara ini untuk melanggengkan kesenian tarling klasik. Berikutnya kemudian muncul tokoh Dangdut tarling seperti; Yoyo Suwaryo, Ipang Supendi, Toyib Suwaryo, Iti S, Wati S, Nunung Alfi, Aas Rolani, Dewi Kirana, Noor Elfathony dan Kini era penyanyi Wulan, Tuti, Deddy Yohana, Eddy Zaky, Wadi Oon, Thorikin, Edy Bentar, dan banyak tokoh lainnya.

Berikut ini adalah karya dan tokoh tarling Indramayu - Cirebon:

Karya tarling legendaris


  • Saida Saini
  • Kang Ato Ayame Ilang
  • Baridin
  • Ajian Semar Mesem
  • Kuntilanak (Lakon Sruet)

Beberapa lagu tarling populer


  • Warung Pojok (Abdul Adjib)
  • Kembang Kilaras
  • Waru Doyong
  • Pemuda Idaman (Sadi M.)

Tokoh-tokoh tarling


  • Uci Sanusi
  • Jayana
  • Sunarto Martaatmadja
  • Abdul Adjib (pencipta lagu Warung Pojok)
  • Lulut Casmaya
  • Hj. Dariyah
  • Maman Suparman
  • Pepen Effendi (pencipta lagu Sega Jamblang)
  • Yoyo Suwaryo (pencipta lagu dan penyanyi tarling Indramayu paling produktif, sekaligus pimpinan Tarling Darma Muda)

Penyanyi tarling dangdut *)


  • Yoyo Suwaryo (penyanyi Jawa Sunda, Mboke Bocah)
  • Aas Rolani (pelantun Mabok Bae, Kembang Kilaras)
  • Dedy Yohana (pelantun, Edan Anyaran)
  • Cucun Novia (penyanyi Waru Doyong, SMS versi Tarling)
  • Nunung Alvi (penyanyi Nunggu Dudae)
  • Dewi Kirana (penyanyi Pengen Dikawin, Pecak Welut)
*)Dan masih banyak penyanyi tarling lainnya dengan karya terbaiknya yang belum disebutkan disini.




sumber:
Berbagai sumber literatur tentang sejarah Tarling
Wikipedia
Teropong News
Kompasiana
Disparbud Jabar


Pengen Langganan Berita?

Mangga batur lan sedulur sing pengen langganan berita, ketik Nami lan Email sampean teng andap niki